Quick Count


Hari ini berita media massa diramaikan berita Quick Count (QC) dari berbagai lebaga survei. Sebagai suatu metodologi untuk memprediksi hasil pemilu QC memiliki legitimasi akademik dan ilmiah yang tinggi. Teknik dan metode ilmiah yang menjadi basis dari QC sangatlah mumpuni dan dapat dipertanggung-jawabkan kehandalan dan kesahihannya. Karena itu dinegara yang budaya dan IPTEKnya maju serta SDMnya sudah melek statistik (tdk sekedar melek huruf) maka QC menjadi barometer yang sangat dipercaya untuk memprediksi hasil pemilu.
Lalu mengapa judul tulisan ini “Sebaiknya jangan mudah percaya hasil Quick Count di Indonesia”.. Praktek pelaksanaan QC di Indonesia terancam berbagai potensi catat motivasi, metodologi, apresiasi. Cacat motivasi karena QC bisa hanya dipercaya jika ada kejujuran dan integritas penyelenggara, sementara itu cacat metodologi menyangkut minimnya kemampuan akademik penyelenggara QC dan belum adanya lembaga sertifikasi yang mampu menilai layak atau tidaknya suatu lembaga untuk menyelenggarakan QC. Cacat apresiasi terkait dengan cara masyarakat menerima hasil QC. Hasil QC diterima sebagai seolah-olah hasil akhir dari pemilu sehingga menimbulkan berbagai kerawanan konflik.

QC seringkali menjadi alat bagi kepentingan pemenangan oleh pihak tertentu. Mulai dari yang paling kasar dengan cara memanipulasi hasil QC sedemikian sehingga menunjukkan kemenangan dari pihak pemesan. Yang moderat adalah merekayasa contoh (sample) yang diambil sehingga mengarah pada hasil yang menguntungkan pemesan. Lebih moderat lagi adalah dengan mengumumkan hasil QC yang memenangkan pihak pemesan secara berulang-ulang dengan kesan seolah-olah hasil akhirnya akan sama dengan QC. Apa lagi kalau penyelenggara telah menyebut margin error kurang dari 5%. Selanjutnya cara yg paling halus adalah QC dilakukan dengan metode yang benar, tetapi hasilnya hanya diumumkan jika menguntungkan pemesan.

Sementara itu tingkat pendidikan masyarakat yang rendah dan masih jauh dari melek statistik sangat rentan dengan berbagai penyalah-gunaan statistik (abuse of statistics). Contoh yang paling kasat mata adalah istilah Quick Count (Perhitungan Cepat). Saya pernah bertanya kepada mahasiswa baru apa yang Anda ketahui tentang QC. Jawabannya sungguh mengejutkan. QC dipahami sebagai suatu cara menghitung cepat mirip seperti cara pintas dalam menjawab soal ujian matematika atau fisika. Ini karena istilah QC itu sesungguhnya istilah yang tidak tepat. Istilah yang lebih tepat adalah Quick Estimate (QE) karena memang hasil yang diperoleh adalah dugaan (estimate) dan bukan hasil yang sesungguhnya. Hasil yang sesungguhnya hanya Tuhan yang tahu, hatta hasil perhitungan oleh KPU-pun hanya benar secara hukum dan belum tentu merupakan kebenaran yang sesungguhnya.

Perbedaan QC dan perhitungan KPU terletak pada kelengkapan dari informasinya. QC mendasarkan perhitungannya pada informasi yang tidak lengkap (karena itu prosesnya menjadi cepat) sementara KPU mendasarkan perhitungannya pada informasi yang lengkap (karena itu prosesnya lebih lama). Hasil QC bisa tinggi akurasinya jika dilakukan dengan metode yang benar. Tetapi karena didasarkan pada informasi yang tidak lengkap maka QC selalu mengandung kesalahan. Karena itu hasil QC tidak lebih dari dugaan, bukan hasil yang sebenarnya.

Belum lagi cara mensosialisasikan QC. Lihatlah di media massa, baik cetak maupun elektronik, jarang (bahkan tidak pernah) kita saksikan ada ahli statistika yang bicara mensosialisasikan QC. Seolah QC dapat dilaksanakan dan dijelaskan oleh siapa saja, hatta oleh lulusan SLA saja. Padahal seperti pekerjaan profesional lainnya QC harus dikerjakan oleh yang kompeten. Apakah kita tidak merasa risi kalau reaksi kimia dikerjakan atau dijelaskan oleh ahli hukum, politik atau pakar komunikasi? Apakah kita tidak geli ketika masalah hukum pidana dijelaskan oleh ahli matematika atau biologi?

Berdasarkan semua ini sebaiknya kita tidak mudah percaya kepada hasil dari praktek QC di Indonesia. Mari kita bersikap kritis dan mengajak penyelenggara QC untuk jujur dan berintegritas dalam melaksanakan dan mengumumkan QC sehingga tidak membodohi masyarakat dengan menjual kebohongan statistik. Sementara itu masyarakat harus segera membentuk lembaga sertifikasi independen yang menilai kemampuan dan integritas suatu lembaga survei pelaksana QC.
Sumber : Note Facebook-nya Pak Khairil
Judul Asli : Sebaiknya jangan mudah percaya hasil Quick Count di Indonesia

Satu Tanggapan

  1. Tapi dengan hasil quick count pas pemilu kemarin seolah membawa angin segar kepada para pengusaha surveyor di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: